DASAR PENDIDIKAN ISLAM MENURUT ALQUR’AN
A. Pendahuluan
Pendidikan
Islam merupakan sebuah sarana yang penting dalam membawa manusia menuju tujuan
hidupnya. Dengan adanya pendidikan, maka dapat terwujud manusia yang
berkarakter, manusia yang mampu berdiri sendiri, serta mampu menjadi manusia
yang berakhlakul karimah, dan manusia yang bisa berinteraksi dengan baik dengan
sesamanya. Untuk mencapai semua ini tentunya membutuhkan waktu yang sangat
panjang. Melalui proses pendidikan, manusia sebagai inti kekhalifahan dibumi,
atas dasar fitrah yang melekat pada dirinya.
Dalam
kaitannya dengan ini maka dibutuhkan sebuah dasar yang kuat. Acuan yang menjadi
dasar pendidikan ini haruslah yang memiliki nilai tertinggi dari pandangan
hidup suatu masyarakat dan tujuan hidupnya. Dalam persepektif Alquran dan
Sunnah memberikan tawaran yang tinggi yang sangat erat kaitannya dengan materi
atau term tentang kependidikan.
B. Pengertian Pendidikan Islam
Alqur’an
merupakan kitab Pendidikan. Pendidikan menurut al-qur’an jelas berbeda dengan
pendidikan yang ada dalam masyarakat non islam. Baik dalam masalah teoritis
ataupun praktis, akibatnya melahirkan istilah- istilah pendidikan yang beragam
dan berbeda pula. Menurut Dr. Muhammad Fadhil Al- Jamali memberikan pengertian
pendidikan Islam adalah upaya mengembangkan, mendorong, dan serta mengajak
manusia lebih maju dengan berdasarkan nilai- nilai yang tinggi dan kehidupan
yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan
dengan akal, perasaan, maupun perbuatan. (Al- Jamali, 1986: 3)
Pengertian
pendidikan menurut An- Nahlawi berasal dari bahasa arab, yaitu dari akar raba-yarbu yang
artinya adalah “bertambah” dan “berkembang”, atau rabia-yarbu adalah tambahan
dan berkembang, dan raba-yarubbu yang dibandingkan dengan kata madda-yamuddu berarti
memperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga, dan memperhatikan.[1]Sedangkan
menurut istilah Ahmad D. Marimba, pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan
secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si
terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[2]
Pendidikan
Islam menurut Ahmad D. Marimba adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan
hukum- hukum agama islam menuju kepada terbentuknya kepribadian yang utama
menurut ukuran-ukuran ajaran islam.[3]
Sedangkan
Pendidikan menurut Rasyid Ridha dalam Tafsir Al- Manar yang dikutip oleh
Ramayulis adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu
tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.
Dari
beberapa pengertian tersebut dikatakan bahwa pendidikan Islam adalah sebuah
proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai- nilai pada
diri peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan fitroh manusia untuk
mencapai sebuah keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam semua aspek.
C. DASAR-
DASAR PENDIDIKAN ISLAM
Dasar
adalah landasan untuk berdirinya sesuatu. Dasar Pendidikan Islam adalah yang
mengatur kehidupan individu ataupun kelompok. Dasar pendidikan islam yang
dimaksudkan disini adalah semua acuan atau rujukan yang darinya memancar ilmu
pengetahuan dan nilai- nilai yang akan ditransinternalisasikan dalam pendidikan
islam. Dasar ini tentunya telah diyakini kebenaran dan kekuatannya dalam
mengantar aktivitas pendidikan, dan telah teruji dari waktu ke waktu. Urgensi
penentuan dasar disini adalah untuk:
1. Mengarahkan
tujuan pendidikan islam yang ingin dicapai
2. Membingkai
seluruh kurikulum yang dilakukan dalam proses belajar mengajar, yang didalamnya
termasuk materi, metode, media, sarana dan evaluasi
3. Menjadi
standard dan tolak ukur dalam evaluasi, apakah kegiatan pendidikan telah
mencapai dan sesuai dengan apa yang diharapkan atau belum.
Dasar
pendidikan islam tentu disandarkan kepada falsafah hidup umat islam itu
sendiri, dan tidak didasarkan kepada falsafah hidup suatu Negara. Sebab system
pendidikan islam tersebut dapat dilaksanakan dimana saja dan kapan saja tanpa
dibatasi oleh ruang dan waktu. Dasar pendidikan islam terdiri atas dasar pokok
dan dasar tambahan. Yang termasuk kedalam dasar pokok pendidikan islam adalah
alqur’an dan as sunnah. Sedangkan yang tergolong dalam dasar tambahan adalah
ijtihad. Semua dasar pendidikan islam ini didudukkan secara hierarkis. Artinya,
rujukan pendidikan islam diawali dari sumber pertama (Alqur’an) untuk kemudian
dilanjutkan pada dasar berikutnya secara berurutan Alquran adalah firman Allah yang diturunkan oleh
Malaikat Jibril (al-ruh al-amin) di hati Rasulullah, Muhammad ibn
Abdillah, dengan menggunakan kata-kata bahasa Arab dan makna-maknanya adalah
nyata. Ajaran yang terkandung didalam Alqur’an terdiri dari dua prinsip besar,
yaitu berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut Aqidah, dan yang
berhubugan dengan amal yang disebut syari’at.
Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha
atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup
mu’amalah. Pendidikan sangat penting, karena pendidikan ikut andil dalam
menentukan corak dan bentuk amal dalam kehidupan manusia, baik pribadi ataupun
masyarakat.
Umat islam sebagai suatu umat yang dianugerahkan Allah suatu Kitab
Suci yang lengkap dengan segala petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan
dan bersifat universal, sudah tentu dasar pendidikan mereka adalah bersumber
kepada falsafah hidup yang berdasarkan pada alqur’an.Alquran dijadikan sebagai
sumber pendidikan islam yang pertama dan utama karena ia memiliki nilai absolut
yang diturunkan dari Allah. Allah menciptakan manusia dan Dia pula yang
mendidik manusia , yang mana isi pendidikan itu telah termaktub dalam
wahyu-Nya. Tidak satupun persoalan, termasuk persoalan pendidikan, yang luput
dari jangkauan Alquran. Alloh berfirman dalam surat Al-an’am ayat38;
وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا طَٰٓئِرٖ يَطِيرُ
بِجَنَاحَيۡهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمۡثَالُكُمۚ مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن
شَيۡءٖۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ
Dan tiadalah
binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua
sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun
dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.
Dan surah An-Nahl ayat 89:
وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدًا عَلَيۡهِم مِّنۡ
أَنفُسِهِمۡۖ وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ
ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَى
لِلۡمُسۡلِمِينَ
(Dan ingatlah) akan hari
(ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari
mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh
umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan
segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri.
Ayat diatas memberikan isyarat bahwa pendidikan islam cukup digali
dari sumber autentik Islam, yaitu Alquran. Nilai esensi dalam alquran selamanya
abadi dan selalu relevan pada setiap zaman, tanpa ada perubahan sama sekali.
Perubahan dimungkinkan hanya menyangkut masalah interpretasi mengenai nilai-
nilai instrumental dan menyangkut masalah teknik operasional. Pendidikan islam
yang ideal harus sepenuhnya mengacu pada nilai dasar Alquran, tanpa sedikitpun
menghindarinya. Sebab Alquran diantaranya memuat tentang sejarah
pendidikan Islam dan nilai- nilai normatif dalam pendidikan Islam.
Dalam Alquran disebutkan beberapa kisah nabi yang erat kaitannya
dengan pendidikan, diantaranya:
a. Kisah
nabi Adam, sebagai manusia pertama yang merintis proses pengajaran (ta’lim)
pada anak cucunya, seperti pengajaran tentang asma ( nama-
nama) benda (QS. Albaqoroh (2): 30-31)
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ
خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ
ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ
أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ
عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبُِٔونِي بِأَسۡمَآءِ
هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
30. Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
31. Dan Dia
mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian
mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang
benar!"
Penyebutan nama- nama sama
artinya dengan penelusuran terminology, dan terminology ekuivalen dengan
konsep, sedangkan konsep merupakan produk penting dari akal budi mausia.
Melalui sebuah asma seringkali seseorang menemukan gambaran
mengenai karakteristik sesuatu, minimal mengetahui apa dan siapa yang
diberi asma itu. Asma menunjukkan identitas
dan eksisnya sesuatu.
b. Kisah
Nabi Nuh yang mampu mendidik dan mengentaskan masyarakat dari banjir
kemaksiatan melalui perahu keimanan; tidak membela dengan membabi buta kepada
keluarga yang salah; menjadi pemula dalam mengembangkan teknologi perkapalan.
Dan ini tercantum dalam Alquran Surah Hud 42-43, 25-32, 40-48, dan Al-
Ankabut:14.
وَهِيَ تَجۡرِي بِهِمۡ فِي مَوۡجٖ كَٱلۡجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ
ٱبۡنَهُۥ وَكَانَ فِي مَعۡزِلٖ يَٰبُنَيَّ ٱرۡكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ
ٱلۡكَٰفِرِينَ قَالَ سََٔاوِيٓ إِلَىٰ جَبَلٖ يَعۡصِمُنِي مِنَ ٱلۡمَآءِۚ قَالَ
لَا عَاصِمَ ٱلۡيَوۡمَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَۚ وَحَالَ
بَيۡنَهُمَا ٱلۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُغۡرَقِينَ
42. Dan bahtera
itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil
anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai
anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama
orang-orang yang kafir".
43. Anaknya
menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku
dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari
azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi
penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang
ditenggelamkan.
c. Demikian
juga kisah- kisah orang shaleh seperti Luqman Al-Hakim yang selalu menganjurkan
dasar- dasar filosofi pendidikan kepada anak- anaknya, tidak menyekutukan
Allah, namun tetap bersyukur kepada-Nya, diserukan mengerjakan ajaran sholat,
berbuat sopan santun pada ibu bapak, mengajarkan yang baik, dan meninggalkan
yang mungkar, selalu bersabar, hidup bersahaja, dan tidak menyombongkan diri.
Perhatikan dalam Surah Luqman ayat 12-19.
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ
وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ
غَنِيٌّ حَمِيدٞ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ
لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ
بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي
عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ وَإِن جَٰهَدَاكَ
عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ
وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ
إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ
يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي
صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ
ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ
وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ
عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ
مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ وَٱقۡصِدۡ فِي
مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ
12. Dan
sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah
kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya
ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. Dan (ingatlah)
ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:
"Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14. Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika
keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman
berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat
biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya
Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi
Maha Mengetahui.
17. Hai anakku,
dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah
(mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa
kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh
Allah).
18. Dan janganlah
kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu
berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan
sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya
seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
a. Nilai-
nilai Normatif Pendidikan Islam
Alquran
memuat nilai normatif yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam. Nilai yang
dimaksud terdiri dari tiga pilar utama ( Al- Zuhaili, 1986: 438- 439), yaitu:
1) I’tiqadiyyah,
yang berkaitan dengan pendiddikan keimanan, seperti percaya kepada Allah,
malaikat, rasul, kitab, hari akhir dan takdir, yang bertujuan untuk menata
kepercayaan individu.
2) Khuluqiyyah, yang
berkaitan dengan pendidikan etika, yang bertujuan untuk membersihkan diri dari
perilaku rendah dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji.
3) Amaliyyah, yang
berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari- hari, baik yang berhubungan
dengan:
b. Pendidikan
ibadah, yang memuat hubungan antara manusia dengan Tuhannya (Hablum minalloh),
seperti sholat, puasa, zakat, haji, dan yang bertujuan untuk aktualisasi nilai-
nilai ubudiyah.
c. Pendidikan
Muamalah, yang memuat hubungan antara manusia, baik secara individual maupun
institusional. Bagian ini terdiri dari Pendidikan syakhshiyyah, pendidikan madaniyyah, pendidikan jana’iyyah, pendidikan murafa’at, pendidikan dusturiyyah, pendidikan duwaliyyah, dan
pendidikan iqtishadiyyah.
Alquran secara
normatif juga mengungkap lima aspek pendidikan dalam dimensi- dimensi kehidupan
manusia, yang meliputi: pendidikan menjaga agama (hifzh ad-din),
pendidikan menjaga jiwa (hifzh an-nafs), pendidikan menjaga akal
pikiran (hifzh al-‘aqal), pendidikan menjaga keturunan (hifzh
an-nasb), pendidikan menjaga harta benda dan kehormatan (hifzh
al-mal wa al-‘irdh).
Nabi Muhammad sebagai al-tarbiyah al-ula, pada
masa awal pertumbuhan islam telah menjadikan alqur’an sebagai dasar pendidikan
islam disamping sunnah beliau sendiri. Sehingga keberadaan Alqur’an yang
memiliki perbendaharaan kata yang sangat luas bagi peradaban manusia dijadikan
sebagai barometer dalam berbagai dimensi yang ada. Kedudukan
alqur’an sebagai dasar pokok pendidikan islam dapat dipahami dari ayat alqur’an
itu sendiri, yaitu terdapat dalam Q.S. An-Nahl ayat 64
وَمَآ أَنزَلۡنَا
عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ
وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ64. Dan Kami tidak menurunkan
kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada
mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang beriman. Dan Q.S.
Shad ayat 29.
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ
إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ
ٱلۡأَلۡبَٰبِ
29.
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya
mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang
yang mempunyai fikiran.
Adapun tentang isi
alqur’an Sayid Sabiq meyatakan seperti yang dikutip oleh Abdul Rozak, bahwa
alqur’an memberikan elaborasi lebih luas dengan klasifikasi tertentu, ia
menganggap bahwa secara dimensional, alqur’an berisi tiga dimensi, yaitu
dimensi spiritual, dimensi moral, dan dimensi sosial. Ayat dalam alquran dapat
dikategorikan menjadi surat makkiyah dan surat madaniyah. Pada surat makkiyah
terdapat pendidikan tauhid/ akidah. Disini terdapat beberapa ayat yang
berhubungan dengan pendidikan diantaranya:
Ø Surat
Al-alaq ayat 1- 19
Dalam
ayat inilah perintah untuk membaca dan menulis yang merupakan sarana utama
untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ada beberapa dasar kerangka pendidikan yang
tergambar di dalam surat al-alaq baik secara eksplisit maupun implisit.
Kerangka pendidikan ini adalah ikhlas, pendidikan seumur hidup, efektivitas
pendidikan, dan pendidikan jasmani.
Ø Surat
Asy Syura ayat 38
Dalam
surat asy syura memang tidak dijelaskan secara eksplisit tentang ruang lingkup
pendidikan seperti yang telah dikemukakan diatas, tetapi dapat dipahami dan
dimengerti bahwa didalam surat asy syura ini berisi pendidikan tauhid akidah,
pendidikan akhlak moral, pendidikan sosial,
Ø Surat
An- Nisa
Surat
An- Nisa merupakan surat madaniyah yang panjang, dan didalamnya mambahas
tentang hokum syari’at, yang mengatur urusan internal dan eksternal umat islam.
Dalam surat ini membahas tentang hal penting yang berhubungan dengan wanita,
rumah, keluarga, orangtua, dan sosial. Akan tetapi pembahasan yang paling besar
adalah terkait dengan wanita, sehingga dinamakan dengan surat An- Nisa. Diakhir
surat An-nisa ini mengandung
nilai pendidikan ibadah. Ibadah yang dimaksudkan adalah tertuju kepada Allah
yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Selanjutnya dalam ayat itu
tercermin nilai kasih sayang yang sangat tinggi, Allah memerintahkan untuk
berbuat baik kepada orang tua, kerabat, tetangga, anak yatim, dan hamba sahaya,
terkandung nilai sosial, dimana Allah mengancam dengan ancaman yang menghinakan
kepada orang kikir dan sombong dan orang-orang yang tidak ikhlas dalam memberi
bantuan.
Ø Surat An-
Nur
Nilai pendidikan yang
terkandung dalam surat An-nur adalah yang berkaitan dengan keluarga, terutama
adab meminta izin terutama yang berkaitan dengan privasi seseorang, setiap
orang harus punya kepedulian terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya, dalam
sebuah rumah tangga harus memiliki peraturan yang disepakati bersama, peraturan
tentang izin itu merupakan syar’iat yang ditetapkan Islam dalam setiap keluarga
agar mendapat karunia-Nya, tahapan dalam mendidik itu disesuaikan dengan tahap
perkembangan, dan setiap syari’at atau aturan perlu dijelaskan alasan yang
menyertainya sehingga harus ditaati.
Ø Surat
Al-ahzab
Nilai-nilai Pendidikan
berdasarkan Qur’an Surat Al-Ahzab ini berkaitan erat dengan keluarga. Tentang
Etika Pergaulan Istri-istri Nabi , menanamkan pendidikan karakter kepada wanita
muslimah, menanamkan nilai-nilai pendidikan kepemimpinan dalam rumah tangga
bagi seorang istri.
Ø Surat
Luqman
Dalam
surat Luqman membahas tingkatan dalam pendidikan yaitu pendidikan
aqidah, pendidikan syari’ah, dan pendidikan karakter. Pendidikan aqidah
meliputi dua hal: (1) larangan mensekutukan Allah. Lukman Hakim memprioritaskan
pendidikan tauhid kepada anak-anak; (2) mempercayai hari akhir (Lukman Hakim
mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mempercayai balasan atas perbuatan yang
dilakukan di dunia), Pendidikan syariah meliputi dua hal, yaitu mendirikan
sholat dan amar ma‘rūf nahy munkar. Pendidikan karakter
meliputi perintah untuk bersyukur kepada Allah atas semua karunia-Nya.
D. Beberapa
Istilah Pendidikan Yang Dibangun Berdasarkan al-Qur’an
1. Istilah
Tarbiyah
Tarbiyah merupakan
proses menyeluruh yang dilakukan terhadap manusia baik jiwa dan raganya, akal
dan perasaannya, perilaku dan kepribadiannya, sikap dan pemahamannya, cara
hidup dan berpikirnya. Tarbiyah ini merupakan proses kegiatan, bukan sesuatu
yang bersifat materi. Kegiatan ini meliputi perhatian, pengarahan, dan
pembantuan yang membantu formasi perilaku individu dan membantu pula tubuh,
sosial, kejiwaan, akhlak dan lainnya. Tarbiyah adalah kegiatan yang membawa
manusia sedikit demi sedikit kepada kesempurnaan yang terwujud dalam beribadah
kepada Allah dan menyiapkan untuk hidup bahagia dalam naungan Allah.
2. Istilah
Ta’lim
Pengertian ta’lim
sebagai suatu istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pendidikan dikemukakan
oleh para ahli, antara lain:
a. Abdul Fatah Jalal
mengemukakan bahwa ta’lim adalah proses pemberian pengetahuan, pemahaman,
pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga terjadinya penyucian
atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran yang menjadikan diri manusia
itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta
mempelajari segala yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya. (Jalal,
1977:17).
b. Muhammad Rasyid Ridha
ta’lim merupakan proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu
tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Dan mencakup aspek kognitif
belaka, belum mencapai domain lainnya. Dari beberapa
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa at-ta’lim adalah
sebuah proses pengajaran memberikan pengetahuan dengan cara transfer knowledge,
guna untuk meningkatkan intelektualitas dan daya berpikir seseorang.
3. Istilah Ta’dib
Ta’dib merupakan
pembinaan akhlak yang dilakukan seorang muadib terhadap mutaadib untuk
membersihkan, memperbaiki perilaku dan hati nurani dengan sesegera mungkin
karena danya suatu penyimpangan, sehingga ta’dib itu dapat mewujudkan insan
muslim yang berhati nurani bersih, berperilaku yang baik sesuai dengan ajaran
Alloh.[4]
Dengan demikian ta’dib memiliki pengertian
sebagai penanaman, pembinaan, dan pengokohan akhlak pada diri anak dengan
syariat Alloh dan cara yang baik agar ia berhati bersih, berperilaku baik,
beriman, beramal shaleh, dan bertakwa untuk mencapai ridho Alloh. Dalam
struktur telaah konseptualnya, ta’dib berorientasi pada
pendidikan dan pelatihan. Cakupan konsep ta’dib lebih luas dibandingkan ta’lim,
karena selain mengajar, guru juga dituntut untuk menananmkan nilai- nilai dalam
aktivitas pembelajaran juga memberikan pelatihan dan pembiasaan, sehingga murid
tidak hanya tahu dan paham terhadap ilmu, tetapi juga dapat melaksanakan ilmu
yang telah didapat dalam aktivitas kehidupannya.
PENUTUP
Sudah sangat jelas bahwa dengan adanya
pendidikan islam, maka akan melahirkan manusia yang memiliki akhlak yang baik
dan mampu mencapai kepada ridho illahi. Dan semua ini tidak lepas dari dasar
utama pendidikan islam itu sendiri yaitu alquran dan hadis. Dimana alquran
merupakan pedoman hidup umat manusia. Dan alquran juga sebagai aturan kehidupan
manusia. Juga sebagai aturan yang paling sempurna untuk manusia yang didalamnya
mengandung aqidah, ibadah, muamalat, dan adab.
Ayat- ayat yang berkaitan dengan
pendidikan didalam alquran sangatlah banyak. Mulai dari ayat yang pertama kali
diturunkan itu merupakan ayat pendidikan, ini berarti bahwa pendidikan menurut
alquran sangatlah penting, dengan sasarannya adalah manusia, dengan menggunakan
berbagai metode. Konsep dasar pendidikan islam dalam perspektif alquran adalah
mendidik manusia dengan cara metode nalar, kegiatan membaca, meneliti,
mempelajari dan observasi. Dan dapat dilihat beberapa surat yang khusus
membahas tentang pendidikan diantaranya surat Al- alaq, surat Al- ahzab, surat
An- nur, Surat An- nisa, dan surat As- syura.
DAFTAR PUSTAKA
Abdulloh, Abdurahman
Shalih . 1991. Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut AlQuran serta
Implementasinya. Bandung: Diponegoro.
Daradjat,
zakiah.2012. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Saebani, Beni Ahmad dan
Hendra Akhdhiyat. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: CV
Pustaka Setia.
Izzan, Ahmad dan
Saehudin. 2012. Tafsir Pendidikan. Banten: PAM Press.
Riadi, Dayun, Nurlaili,
Junaidi Hamzah. 2017. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
[1] An-
Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, Terjemahan
Shihabuddin, Gema Insani Press, Jakarta 1996, hal. 20.
[4] Dedeng
Rasidin, Akar- akar Pendidikan Dalam Alquran dan Al Hadis, Pustaka Umat,
Bandung, 2003, hal. 196.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar