Minggu, 12 Januari 2020

Dasar Pendidikan Islam Menurut Alquran

DASAR PENDIDIKAN ISLAM MENURUT ALQUR’AN
A.     Pendahuluan
          Pendidikan Islam merupakan sebuah sarana yang penting dalam membawa manusia menuju tujuan hidupnya. Dengan adanya pendidikan, maka dapat terwujud manusia yang berkarakter, manusia yang mampu berdiri sendiri, serta mampu menjadi manusia yang berakhlakul karimah, dan manusia yang bisa berinteraksi dengan baik dengan sesamanya. Untuk mencapai semua ini tentunya membutuhkan waktu yang sangat panjang. Melalui proses pendidikan, manusia sebagai inti kekhalifahan dibumi, atas dasar fitrah yang melekat pada dirinya.
          Dalam kaitannya dengan ini maka dibutuhkan sebuah dasar yang kuat. Acuan yang menjadi dasar pendidikan ini haruslah yang memiliki nilai tertinggi dari pandangan hidup suatu masyarakat dan tujuan hidupnya. Dalam persepektif Alquran dan Sunnah memberikan tawaran yang tinggi yang sangat erat kaitannya dengan materi atau term tentang kependidikan. 
B.     Pengertian Pendidikan Islam
   Alqur’an merupakan kitab Pendidikan. Pendidikan menurut al-qur’an jelas berbeda dengan pendidikan yang ada dalam masyarakat non islam. Baik dalam masalah teoritis ataupun praktis, akibatnya melahirkan istilah- istilah pendidikan yang beragam dan berbeda pula. Menurut Dr. Muhammad Fadhil Al- Jamali memberikan pengertian pendidikan Islam adalah upaya mengembangkan, mendorong, dan serta mengajak manusia lebih maju dengan berdasarkan nilai- nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan. (Al- Jamali, 1986: 3)
   Pengertian pendidikan menurut An- Nahlawi berasal dari bahasa arab, yaitu dari akar raba-yarbu yang artinya adalah “bertambah” dan “berkembang”, atau rabia-yarbu adalah tambahan dan berkembang, dan raba-yarubbu yang dibandingkan dengan kata madda-yamuddu berarti memperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga, dan memperhatikan.[1]Sedangkan menurut istilah Ahmad D. Marimba, pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[2]
          Pendidikan Islam menurut Ahmad D. Marimba adalah bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum- hukum agama islam menuju kepada terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukuran-ukuran ajaran islam.[3]
          Sedangkan Pendidikan menurut Rasyid Ridha dalam Tafsir Al- Manar yang dikutip oleh Ramayulis adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. 
          Dari beberapa pengertian tersebut dikatakan bahwa pendidikan Islam adalah sebuah proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai- nilai pada diri peserta didik melalui penumbuhan dan pengembangan fitroh manusia untuk mencapai sebuah keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam semua aspek.
C.     DASAR- DASAR PENDIDIKAN ISLAM
               Dasar adalah landasan untuk berdirinya sesuatu. Dasar Pendidikan Islam adalah yang mengatur kehidupan individu ataupun kelompok. Dasar pendidikan islam yang dimaksudkan disini adalah semua acuan atau rujukan yang darinya memancar ilmu pengetahuan dan nilai- nilai yang akan ditransinternalisasikan dalam pendidikan islam. Dasar ini tentunya telah diyakini kebenaran dan kekuatannya dalam mengantar aktivitas pendidikan, dan telah teruji dari waktu ke waktu. Urgensi penentuan dasar disini adalah untuk:
1.      Mengarahkan tujuan pendidikan islam yang ingin dicapai
2.      Membingkai seluruh kurikulum yang dilakukan dalam proses belajar mengajar, yang didalamnya termasuk materi, metode, media, sarana dan evaluasi
3.      Menjadi standard dan tolak ukur dalam evaluasi, apakah kegiatan pendidikan telah mencapai dan sesuai dengan apa yang diharapkan atau belum.
               Dasar pendidikan islam tentu disandarkan kepada falsafah hidup umat islam itu sendiri, dan tidak didasarkan kepada falsafah hidup suatu Negara. Sebab system pendidikan islam tersebut dapat dilaksanakan dimana saja dan kapan saja tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Dasar pendidikan islam terdiri atas dasar pokok dan dasar tambahan. Yang termasuk kedalam dasar pokok pendidikan islam adalah alqur’an dan as sunnah. Sedangkan yang tergolong dalam dasar tambahan adalah ijtihad. Semua dasar pendidikan islam ini didudukkan secara hierarkis. Artinya, rujukan pendidikan islam diawali dari sumber pertama (Alqur’an) untuk kemudian dilanjutkan pada dasar berikutnya secara berurutan   Alquran adalah firman Allah yang diturunkan oleh Malaikat Jibril (al-ruh al-amin) di hati Rasulullah, Muhammad ibn Abdillah, dengan menggunakan kata-kata bahasa Arab dan makna-maknanya adalah nyata. Ajaran yang terkandung didalam Alqur’an terdiri dari dua prinsip besar, yaitu berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut Aqidah, dan yang berhubugan dengan amal yang disebut syari’at.
      Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup mu’amalah. Pendidikan sangat penting, karena pendidikan ikut andil dalam menentukan corak dan bentuk amal dalam kehidupan manusia, baik pribadi ataupun masyarakat.
Umat islam sebagai suatu umat yang dianugerahkan Allah suatu Kitab Suci yang lengkap dengan segala petunjuk yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan bersifat universal, sudah tentu dasar pendidikan mereka adalah bersumber kepada falsafah hidup yang berdasarkan pada alqur’an.Alquran dijadikan sebagai sumber pendidikan islam yang pertama dan utama karena ia memiliki nilai absolut yang diturunkan dari Allah. Allah menciptakan manusia dan Dia pula yang mendidik manusia , yang mana isi pendidikan itu telah termaktub dalam wahyu-Nya. Tidak satupun persoalan, termasuk persoalan pendidikan, yang luput dari jangkauan Alquran. Alloh berfirman dalam surat Al-an’am ayat38;
وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا طَٰٓئِرٖ يَطِيرُ بِجَنَاحَيۡهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمۡثَالُكُمۚ مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ
Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.
Dan surah An-Nahl ayat 89:
وَيَوۡمَ نَبۡعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٖ شَهِيدًا عَلَيۡهِم مِّنۡ أَنفُسِهِمۡۖ وَجِئۡنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَى لِلۡمُسۡلِمِينَ
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Ayat diatas memberikan isyarat bahwa pendidikan islam cukup digali dari sumber autentik Islam, yaitu Alquran. Nilai esensi dalam alquran selamanya abadi dan selalu relevan pada setiap zaman, tanpa ada perubahan sama sekali. Perubahan dimungkinkan hanya menyangkut masalah interpretasi mengenai nilai- nilai instrumental dan menyangkut masalah teknik operasional. Pendidikan islam yang ideal harus sepenuhnya mengacu pada nilai dasar Alquran, tanpa sedikitpun menghindarinya.  Sebab Alquran diantaranya memuat tentang sejarah pendidikan Islam dan nilai- nilai normatif dalam pendidikan Islam.
Dalam Alquran disebutkan beberapa kisah nabi yang erat kaitannya dengan pendidikan, diantaranya:
a.       Kisah nabi Adam, sebagai manusia pertama yang merintis proses pengajaran (ta’lim) pada anak cucunya, seperti pengajaran tentang asma ( nama- nama) benda (QS. Albaqoroh (2): 30-31)
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
30.  Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
31.  Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
          Penyebutan nama- nama sama artinya dengan penelusuran terminology, dan terminology ekuivalen dengan konsep, sedangkan konsep merupakan produk penting dari akal budi mausia. Melalui sebuah asma seringkali seseorang menemukan gambaran mengenai karakteristik sesuatu, minimal mengetahui apa dan siapa yang diberi asma itu. Asma menunjukkan identitas dan eksisnya sesuatu.
b.      Kisah Nabi Nuh yang mampu mendidik dan mengentaskan masyarakat dari banjir kemaksiatan melalui perahu keimanan; tidak membela dengan membabi buta kepada keluarga yang salah; menjadi pemula dalam mengembangkan teknologi perkapalan. Dan ini tercantum dalam Alquran Surah Hud 42-43, 25-32, 40-48, dan Al- Ankabut:14.
وَهِيَ تَجۡرِي بِهِمۡ فِي مَوۡجٖ كَٱلۡجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ٱبۡنَهُۥ وَكَانَ فِي مَعۡزِلٖ يَٰبُنَيَّ ٱرۡكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ ٱلۡكَٰفِرِينَ قَالَ سَ‍َٔاوِيٓ إِلَىٰ جَبَلٖ يَعۡصِمُنِي مِنَ ٱلۡمَآءِۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلۡيَوۡمَ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا ٱلۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُغۡرَقِينَ
42.  Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir".
43.  Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
c.       Demikian juga kisah- kisah orang shaleh seperti Luqman Al-Hakim yang selalu menganjurkan dasar- dasar filosofi pendidikan kepada anak- anaknya, tidak menyekutukan Allah, namun tetap bersyukur kepada-Nya, diserukan mengerjakan ajaran sholat, berbuat sopan santun pada ibu bapak, mengajarkan yang baik, dan meninggalkan yang mungkar, selalu bersabar, hidup bersahaja, dan tidak menyombongkan diri. Perhatikan dalam Surah Luqman ayat 12-19.
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ يَٰبُنَيَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ
12.  Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13.  Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14.  Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15.  Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16.  (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
17.  Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18.  Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19.  Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
a.       Nilai- nilai Normatif Pendidikan Islam
        Alquran memuat nilai normatif yang menjadi acuan dalam pendidikan Islam. Nilai yang dimaksud terdiri dari tiga pilar utama ( Al- Zuhaili, 1986: 438- 439), yaitu:
1)      I’tiqadiyyah, yang berkaitan dengan pendiddikan keimanan, seperti percaya kepada Allah, malaikat, rasul, kitab, hari akhir dan takdir, yang bertujuan untuk menata kepercayaan individu.
2)      Khuluqiyyah, yang berkaitan dengan pendidikan etika, yang bertujuan untuk membersihkan diri dari perilaku rendah dan menghiasi diri dengan perilaku terpuji.
3)      Amaliyyah, yang berkaitan dengan pendidikan tingkah laku sehari- hari, baik yang berhubungan dengan:
b.      Pendidikan ibadah, yang memuat hubungan antara manusia dengan Tuhannya (Hablum minalloh), seperti sholat, puasa, zakat, haji, dan yang bertujuan untuk aktualisasi nilai- nilai ubudiyah.
c.       Pendidikan Muamalah, yang memuat hubungan antara manusia, baik secara individual maupun institusional. Bagian ini terdiri dari Pendidikan syakhshiyyah, pendidikan madaniyyah, pendidikan jana’iyyah, pendidikan murafa’at, pendidikan dusturiyyah, pendidikan duwaliyyah, dan pendidikan iqtishadiyyah.
 Alquran secara normatif juga mengungkap lima aspek pendidikan dalam dimensi- dimensi kehidupan manusia, yang meliputi: pendidikan menjaga agama (hifzh ad-din), pendidikan menjaga jiwa (hifzh an-nafs), pendidikan menjaga akal pikiran (hifzh al-‘aqal), pendidikan menjaga keturunan (hifzh an-nasb), pendidikan menjaga harta benda dan kehormatan (hifzh al-mal wa al-‘irdh).
          Nabi Muhammad sebagai al-tarbiyah al-ula, pada masa awal pertumbuhan islam telah menjadikan alqur’an sebagai dasar pendidikan islam disamping sunnah beliau sendiri. Sehingga keberadaan Alqur’an yang memiliki perbendaharaan kata yang sangat luas bagi peradaban manusia dijadikan sebagai barometer dalam berbagai dimensi yang ada.  Kedudukan alqur’an sebagai dasar pokok pendidikan islam dapat dipahami dari ayat alqur’an itu sendiri, yaitu terdapat dalam Q.S. An-Nahl ayat 64
وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِي ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ64.  Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. Dan  Q.S. Shad ayat 29.
كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ
29.  Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.
         Adapun tentang isi alqur’an Sayid Sabiq meyatakan seperti yang dikutip oleh Abdul Rozak, bahwa alqur’an memberikan elaborasi lebih luas dengan klasifikasi tertentu, ia menganggap bahwa secara dimensional, alqur’an berisi tiga dimensi, yaitu dimensi spiritual, dimensi moral, dan dimensi sosial. Ayat dalam alquran dapat dikategorikan menjadi surat makkiyah dan surat madaniyah. Pada surat makkiyah terdapat pendidikan tauhid/ akidah. Disini terdapat beberapa ayat yang berhubungan dengan pendidikan diantaranya:
Ø Surat Al-alaq ayat 1- 19
Dalam ayat inilah perintah untuk membaca dan menulis yang merupakan sarana utama untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Ada beberapa dasar kerangka pendidikan yang tergambar di dalam surat al-alaq baik secara eksplisit maupun implisit. Kerangka pendidikan ini adalah ikhlas, pendidikan seumur hidup, efektivitas pendidikan, dan pendidikan jasmani.
Ø Surat Asy Syura ayat 38
Dalam surat asy syura memang tidak dijelaskan secara eksplisit tentang ruang lingkup pendidikan seperti yang telah dikemukakan diatas, tetapi dapat dipahami dan dimengerti bahwa didalam surat asy syura ini berisi pendidikan tauhid akidah, pendidikan akhlak moral, pendidikan sosial,
Ø Surat An- Nisa
Surat An- Nisa merupakan surat madaniyah yang panjang, dan didalamnya mambahas tentang hokum syari’at, yang mengatur urusan internal dan eksternal umat islam. Dalam surat ini membahas tentang hal penting yang berhubungan dengan wanita, rumah, keluarga, orangtua, dan sosial. Akan tetapi pembahasan yang paling besar adalah terkait dengan wanita, sehingga dinamakan dengan surat An- Nisa. Diakhir surat An-nisa ini mengandung nilai pendidikan ibadah. Ibadah yang dimaksudkan adalah tertuju kepada Allah yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Selanjutnya dalam ayat itu tercermin nilai kasih sayang yang sangat tinggi, Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat, tetangga, anak yatim, dan hamba sahaya, terkandung nilai sosial, dimana Allah mengancam dengan ancaman yang menghinakan kepada orang kikir dan sombong dan orang-orang yang tidak ikhlas dalam memberi bantuan.
Ø  Surat An- Nur
Nilai pendidikan yang terkandung dalam surat An-nur adalah yang berkaitan dengan keluarga, terutama adab meminta izin terutama yang berkaitan dengan privasi seseorang, setiap orang harus punya kepedulian terhadap situasi dan kondisi di sekitarnya, dalam sebuah rumah tangga harus memiliki peraturan yang disepakati bersama, peraturan tentang izin itu merupakan syar’iat yang ditetapkan Islam dalam setiap keluarga agar mendapat karunia-Nya, tahapan dalam mendidik itu disesuaikan dengan tahap perkembangan, dan setiap syari’at atau aturan perlu dijelaskan alasan yang menyertainya sehingga harus ditaati.
Ø  Surat Al-ahzab
Nilai-nilai Pendidikan berdasarkan Qur’an Surat Al-Ahzab ini berkaitan erat dengan keluarga. Tentang Etika Pergaulan Istri-istri Nabi , menanamkan pendidikan karakter kepada wanita muslimah, menanamkan nilai-nilai pendidikan kepemimpinan dalam rumah tangga bagi seorang istri.
Ø  Surat Luqman
Dalam surat Luqman membahas tingkatan dalam pendidikan yaitu pendidikan aqidah, pendidikan syari’ah, dan pendidik­an karakter. Pendidikan aqidah meliputi dua hal: (1) larangan mensekutukan Allah. Lukman Hakim memprioritaskan pendidikan tauhid kepada anak-anak; (2) mempercayai hari akhir (Lukman Hakim mengajarkan kepada anak-anaknya untuk mempercayai balasan atas perbuatan yang dilakukan di dunia), Pendidikan syariah meliputi dua hal, yaitu mendirikan sholat dan amar ma‘rūf nahy munkar. Pendidikan karakter meliputi perintah untuk bersyukur kepada Allah atas semua karunia-Nya.
D.       Beberapa Istilah Pendidikan Yang Dibangun Berdasarkan al-Qur’an
1.      Istilah Tarbiyah
            Tarbiyah merupakan proses menyeluruh yang dilakukan terhadap manusia baik jiwa dan raganya, akal dan perasaannya, perilaku dan kepribadiannya, sikap dan pemahamannya, cara hidup dan berpikirnya. Tarbiyah ini merupakan proses kegiatan, bukan sesuatu yang bersifat materi. Kegiatan ini meliputi perhatian, pengarahan, dan pembantuan yang membantu formasi perilaku individu dan membantu pula tubuh, sosial, kejiwaan, akhlak dan lainnya. Tarbiyah adalah kegiatan yang membawa manusia sedikit demi sedikit kepada kesempurnaan yang terwujud dalam beribadah kepada Allah dan menyiapkan untuk hidup bahagia dalam naungan Allah.
2.      Istilah Ta’lim
            Pengertian ta’lim sebagai suatu istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pendidikan dikemukakan oleh para ahli, antara lain:
a.       Abdul Fatah Jalal mengemukakan bahwa ta’lim adalah proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga terjadinya penyucian atau pembersihan diri manusia dari segala kotoran yang menjadikan diri manusia itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya. (Jalal, 1977:17).
b.      Muhammad Rasyid Ridha ta’lim merupakan proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Dan mencakup aspek kognitif belaka, belum mencapai domain lainnya. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa at-ta’lim adalah sebuah proses pengajaran memberikan pengetahuan dengan cara transfer knowledge, guna untuk meningkatkan intelektualitas dan daya berpikir seseorang. 

3.      Istilah Ta’dib
            Ta’dib merupakan pembinaan akhlak yang dilakukan seorang muadib terhadap mutaadib untuk membersihkan, memperbaiki perilaku dan hati nurani dengan sesegera mungkin karena danya suatu penyimpangan, sehingga ta’dib itu dapat mewujudkan insan muslim yang berhati nurani bersih, berperilaku yang baik sesuai dengan ajaran Alloh.[4]
            Dengan demikian ta’dib memiliki pengertian sebagai penanaman, pembinaan, dan pengokohan akhlak pada diri anak dengan syariat Alloh dan cara yang baik agar ia berhati bersih, berperilaku baik, beriman, beramal shaleh, dan bertakwa untuk mencapai ridho Alloh. Dalam struktur telaah konseptualnya, ta’dib  berorientasi pada pendidikan dan pelatihan. Cakupan konsep ta’dib lebih luas dibandingkan ta’lim, karena selain mengajar, guru juga dituntut untuk menananmkan nilai- nilai dalam aktivitas pembelajaran juga memberikan pelatihan dan pembiasaan, sehingga murid tidak hanya tahu dan paham terhadap ilmu, tetapi juga dapat melaksanakan ilmu yang telah didapat dalam aktivitas kehidupannya.




PENUTUP
Sudah sangat jelas bahwa dengan adanya pendidikan islam, maka akan melahirkan manusia yang memiliki akhlak yang baik dan mampu mencapai kepada ridho illahi. Dan semua ini tidak lepas dari dasar utama pendidikan islam itu sendiri yaitu alquran dan hadis. Dimana alquran merupakan pedoman hidup umat manusia. Dan alquran juga sebagai aturan kehidupan manusia. Juga sebagai aturan yang paling sempurna untuk manusia yang didalamnya mengandung aqidah, ibadah, muamalat, dan adab.
Ayat- ayat yang berkaitan dengan pendidikan didalam alquran sangatlah banyak. Mulai dari ayat yang pertama kali diturunkan itu merupakan ayat pendidikan, ini berarti bahwa pendidikan menurut alquran sangatlah penting, dengan sasarannya adalah manusia, dengan menggunakan berbagai metode. Konsep dasar pendidikan islam dalam perspektif alquran adalah mendidik manusia dengan cara metode nalar, kegiatan membaca, meneliti, mempelajari dan observasi. Dan dapat dilihat beberapa surat yang khusus membahas tentang pendidikan diantaranya surat Al- alaq, surat Al- ahzab, surat An- nur, Surat An- nisa, dan surat As- syura.









DAFTAR PUSTAKA
Abdulloh, Abdurahman Shalih . 1991. Landasan dan Tujuan Pendidikan Menurut AlQuran serta Implementasinya.  Bandung:  Diponegoro.
Daradjat, zakiah.2012. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Saebani, Beni Ahmad dan Hendra Akhdhiyat. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
Izzan, Ahmad dan Saehudin. 2012. Tafsir Pendidikan. Banten: PAM Press.
Riadi, Dayun, Nurlaili, Junaidi Hamzah. 2017. Ilmu Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



[1] An- Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, Terjemahan Shihabuddin, Gema Insani Press, Jakarta 1996, hal. 20.
[2] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, PT Al-Ma’arif Bandung, 1986, hal. 19.
                [3] Marimba, op.cit., hal. 23.
[4] Dedeng Rasidin, Akar- akar Pendidikan Dalam Alquran dan Al Hadis, Pustaka Umat, Bandung, 2003, hal. 196.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar