MANAJEMEN DIKLAT
TRAINING NEEDS ASSESMENT
Dosen :Sulis Rokhmawanto M.SI.
Abstract
Training
needs assessment is an ongoing process of gathering data to determine what
training needs exist so that training can be developed to help the organization
accomplish its objectives. Conducting needs assessment is fundamental to the
success of a training program. Often, organizations will develop and implement
training without first conducting a needs analysis. These organizations run the
risk of overdoing training, doing too little training, or missing the point
completely.
Keyword :Training Needs Assesment
Abstrak
Penilaian kebutuhan pelatihan adalah proses pengumpulan
data berkelanjutan untuk menentukan kebutuhan pelatihan apa yang ada, sehingga
pelatihan dapat dikembangkan untuk membantu organisasi mencapai tujuannya.
Melakukan penilaian kebutuhan merupakan hal mendasar bagi keberhasilan program
pelatihan. Seringkali, organisasi akan mengembangkan dan menerapkan pelatihan
tanpa terlebih dahulu melakukan analisis kebutuhan. Organisme Deze lopen de
risico van yang terlalu banyak latihan, dilakukan dalam pelatihan, dari het missen
van de punt volledig.
Kata Kunci :Kebutuhan Pelatihan
Pengertian
Training Need Assessment
Training
Needs Assessment (TNA) atau analisis kebutuhan pelatihan adalah suatu langkah
yang dilakukan sebelum melakukan pelatihan dan merupakan bagian terpadu dalam
merancang pelatihan untuk memperoleh gambaran komprehensif tentang materi,
alokasi waktu tiap materi, dan strategi pembelajaran yang sebaiknya diterapkan
dalam penyelenggaraan pelatihan agar pelatihan bermanfaat bagi peserta
pelatihan. Dari analisis ini akan diketahui pelatihan apa saja yang relevan
bagi suatu organisasi pada saat ini dan juga di masa yang akan datang.
Organisasi tidak dapat menentukan pelatihan begitu saja tanpa menganalisis
dahulu kebutuhan dan tujuan apa yang ingin dicapai. Penilaian kebutuhan
merupakan road map untuk mencapai tujuan organsasi.
Jadi
Training Need Assessment(TNA) disebut juga sebagai payung istilah kegiatan
analisis yang digunakan untuk mempelajari kinerja atau teknologi baru.
Training Need Asseessment (TNA) ini merupakan yang
bertujuan untuk memahami dan memepelajari
masalah.Anda mungkin mendengar disebut dengan analisis masalah,analisis
pra-pelatihan,memikirkan hal-hal,penilain kebutuhan dan analisis front
end.Apakah yang anda sebut itu tidak masalah?.Yang terpenting adalah apakah
anda mendapatkan informasi tentang apa yang anda butuhkan untuk memecahakan
masalah secara efektif dalam perusahaan.info terperinci ini dari perpektif
berbagai sumber atau pemangku kepentingan ,adalah tujuan TNA.Pada dasarnya
tujuan TNA ini adalah melacak Front End untuk anda.pertanyaan ini menunjukan
bagaimana kerjanya?
1. Mengapa
saya melakukan analisis terhadap masalah ini?
2. Apa
yang sekarang tahu tentang….?
3. Apa
yang harus di temukan?dan Apa tujuan
yang harus dipenuhi?
Untuk
situasi awal yang harus kita ketahui untuk mendapatkan informasi atau data
tentang setiap tujuan ini:
1. Mencari
Optimal: visi pengetahuan atau kinerja yang di inginkan. Pada dasarnya trainee
ini ditekankan untuk melakukan perkerjaan dengan baik dengan mmengunakan pengetahuannya dan ketrampilanya.
2. Mencari
Tindakan:seperti apa adanya,seperti orang yang tahu dan dilakukan. Apa yang
sedang dilakukan oleh guru?bagaimana penyitaan barang? Kita membicarakan
masalah apa yang seharusnya terjadi(optimal) dan apa yang terjadi (actual),kesenjnagan
anatara optimal dan actual itu yang disebut kebutuhan atau ketidaksesuainan.
Kebutuhan
menurut Briggs (dalam AKD LAN 2005) adalah ketimpangan atau gap antara apa yang
seharusnya dengan apa yang senyatanya. Gilley dan Eggland (AKD LAN, 2005 )
menyatakan bahwa kebutuhan adalah kesenjangan antara seperangkat kondisi yang
ada pada saat sekarang ini dengan seperangkat kondisi yang diharapkan.
Kebutuhan
pelatihan dapat diketahui sekiranya terjadi ketimpanga antara kondisi
(pengetahuan, keahlian dan perilaku) yang senyatanya ada dengan tujuan yang
diharapkan tercipta pada suatu organisasi. Kebutuhan pendidikan (education
needs) atau kebutuhan pelatihan (training needs) adalah kesenjangan yang dapat
diukur antara hasil yang ada sekarang dan hasil yang diinginkan atau
dipersyaratkan. Tidak semua kesenjangan atau kebutuhan mempunyai tingkat
kepentingan yang sama untuk segera dipenuhi. Maka antara kebutuhan yang dipilih
dengan kepentingan untuk dipenuhi kadang terjadi masalah atau selected gap.
Analisis
Kebutuhan Pelatihan menurut Rosset dan Arwady menyebutkan bahwa Training Needs
Assessment (TNA) adalah suatu istilah yang dipergunakan dalam analisis untuk
memahami permasalahan kinerja atau permasalahan yang berkaitan dengan penerapan
teknologi baru.
Analisis
kebutuhan pelatihan memegang peran penting dalam setiap program pelatihan,
sebab dari analisis ini akan diketahui pelatihan apa saja yang relevan bagi
suatu organisasi pada saat ini dan juga dimasa yang akan datang, yang berarti
dalam tahap analisis kebutuhan pelatihan ini dapat diidentifikasi jenis
pelatihan apa saja yang dibutuhkan oleh pegawai dalam pengemban kewajibannya. Dimana
TNA ini berfungsi sebagai mengumpulkan informasi tettang
skill,pengetahuan,feelling kerja,job conten,job context,mendefinisikan kinerja
standardan actual dalam rincian yang operasikan serta memberi data untuk
keperluan perencanaan.
Perencanaan Pelatihan
Perencana
pelatihan adalah proses perencanaan yang menggambarkan urutan kegiatan suatu
prorgan.Ada tiga unsur penting dalam upaya meningkatkan kegiatan pelatihan bagi
setiap individu,yaitu maksud (apa yang harus dicapai).(bagaimana mencapai
tujuan), dan format (dalam keadaan bagaimana perencanaan latihan atau desain
yang akan di capai).Langkah selamjutnya dalam perencanaan adalah :
1. Menetapkan
Alokasi waktu
2. .Apa
yang anda lakukan agar peserta terlibat dan berpartisipasi.
3. Pokok
atau intruksi apa?.Apa yang disajikan,apa yang anda inginkan dari peserta?
4. Materi
apa yang dibutuhkan?
5. Pengaturan,bagaimana
anda mengetahui lingkungan fisik agar perencanaan berhasil
6. .Peneilain
apa yang anda buat,alat atau diskusi apa yang di inginkan peserta sebelum
melanjutkan kegiatan berikutnya dari unsur itu
.Perencanaan
ini bertujuan untuk mengetahui system kegiatan pelatihan dan aspek apa yang
menjadi focus utamanya, serta bertujuan untuk menyiapkan bahan dan model - model
yang digunakan.
1. Model
perencanaan Pelatihan (depdiknas)
![]() |
|||||||||||||||||||
Pendekatan
Training Need Assessment
Ada
beberapa pendekatan dalam melakukan TNA, diantara yang paling populer adalah :
1. Makro
TNA yang didasarkan
kepada kebutuhan organisasi / perusahaan secara umum, sehingga hasil TNA-nya
berlaku untuk semua orang yang ada di dalamnya. Maka dari itu, seringkali disebut
Analisis Dasar Organisasi.
TNA Makro dapat
menggunakan sumber data diantaranya :
a. Visi,
misi, strategic objective dan target perusahaan.
b. Keadaan ekonomi dan finansial perusahaan.
c. Perubahan
budaya.
d. Perubahan teknologi.
e. Tema
perusahaan, seperti Pengurangan Biaya, Peningkatan Kualitas, dst.
2. Mikro
.
TNA
yang didasarkan kepada kebutuhan kelompok tertentu.Terdiri dari 2, yaitu :
a. Task-Based
Analysis.Fokus utamanya adalah apakah standar keterampilan yang dibutuhkan pada
sebuah pekerjaan sudah dimiliki oleh si pemegang jabatan atau belum.
b. Person-Based
Analysis.Fokus utamanya adalah apakah karyawan sudah dapat melakukan pekerjaan
sesuai tuntutan atau belum.
TNA Mikro dapat menggunakan sumber data
diantaranya : Job Description,Performance Standar,Performance evaluation,Observasi
kerja, Interview, Kuesioner,Checklis.Baik Task-Based maupun Person-Based
sama-sama memiliki acuan standar pekerjaan, sehingga saling melengkapi.
Tahap
Training Needs Assessment
1. Analisis
organisasi.
Analisis organisasi menentukan di mana pelatihan dapat
dilakukan dan di mana seharusnya dilakukan. Analisis ini memfokuskan pada
organisasi secara keseluruhan mencakup analisis tujuan organisasi, sumber daya,
iklim organisasi, serta analisis lingkungan eksternal dan internal organisasi.
Analisis ini bertujuan memperoleh informasi tentang organisasi yang digunakan
untuk menentukan tujuan pelatihan yang hendak dicapai. Sebagai tahap awal perlu
adanya upaya mengkaitkan penilaian kebutuhan pelatihan dengan pencapaian tujuan
organisasi. Dengan mengkaitkan hubungan tersebut, kebutuhan pelatihan akan
dapat diidentifikasi.
2. Analisis
tugas
Analisis tugas mengidentifikasi pelatihan
apa saja yang harus diberikan kepada karyawan terkait dengan pekerjaannya.
Tujuan analisis ini adalah mengetahui tentang tugas yang harus dilakukan
karyawan, penentuan standar kinerja untuk suatu pekerjaan, penentuan
pengetahuan, kemampuan dan perilaku yang diperlukan dalam suatu pekerjaan.
3. Analisis
individu
Analisis individu mengidentifikasi siapa
atau karyawan mana yang membutuhkan pelatihan dan pelatihan apa saja yang perlu
diberikan. Untuk itu perlu mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki tiap
karyawan yang meliputi:
a. Penentuan
metode pengukuran kemampuan
b. Penyusunan instrumen pengukuran kemampuan
c. Pengukuran kemampuan di lapangan
d. Pengolahan hasil pengukuran kemampuan
e. Gambaran
hasil pengukuran kemampuan
Setelah dilakukan pengukuran kemampuan,
maka akan diperoleh gambaran kemampuan karyawan saat ini. Adapun beberapa
metode pengumpulan data sebagai berikut:
a. Survei
Survei merupakan metode yang sering
digunakan untuk mengumpulkan data. Pertanyaan survei harus benar agar tidak
terjadi interpretasi yang keliru dari responden. Keuntungan metode survei
adalah dapat diterapkan pada populasi yang besar dan mudah dalam memperoleh
feed back.
b. Observasi
Observasi sangat baik digunakan jika
populasinya sangat besar dan kompleks. Observasi dilakukan oleh orang yang
terlatih dalam teknik observasi dan mengenal proses yang diobservasi.
c. Wawancara
individu
Wawancara individu biasanya digunakan
bersamaan dengan survei tertulis, tetapi dapat juga dilakukan secara
independen. Wawancara individu digunakan untuk mengetahui kevalidan data yang
diperoleh saat survei. Keuntungan menggunakan wawancara adalah kesempatan untuk
mengadakan interaksi secara langsung dengan karyawan dan merupakan cara paling
efektif untuk mengumpulkan data yang lengkap.
d. Focus
Groups
Dalam metode ini ada pembentukan kelompok
yang melakukan brainstorming mengenai hal tertentu. Data yang diperoleh berupa
data kualitatif.
e. Performance
Appraisal
Hasil studi menunjukkan bahwa laporan
penilaian kinerja sangat berguna dalam menentukan kebutuhan pelatihan. Yang perlu
diperhatikan jika menggunakan laporan kinerja adalah form penilaian harus
terstruktur dan pimpinan harus terampil dalam proses penilaian kinerja.
4. Penentuan
kesenjangan kemampuan
Gambaran
kemampuan karyawan yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mengetahui adanya
kesenjangan antara standar dengan kondisi aktual saat ini.
5. Rekomendasi
Setelah mengetahui bentuk kesenjangan yang
ada dan faktor apa yang mempengaruhi, kemudian dapat ditentukan pelatihan apa
yang perlu diberikan. Sehingga bisa merencanakan pelatihan dan pengembangan
sebelum melaksanakannya.
F.Pelaksanaan
Pelatihan dan Pengembangan
Setelah
melakukan analisis serta perencanaan, maka tahap selanjutnya dari pelatihan dan
pengembangan adalah melaksanakannya. Adapun metode yang digunakan adalah sebagai
berikut.
Metode
Pelatihan dan Pengembangan
Berdasarkan
klasifikasi metode pelatihan dan pengembangan tersebut, rincian metode
pelatihan dan pengembangan menjadi sebagai berikut :
1. On
The Job
On the job adalah metode pelatihan yang
dilaksanakan di tempat kerja yang sebenarnya dan dilakukan sambil bekerja.
Kategori metode on the job terdiri dari dua jenis, yaitu :
1) Informal
on the job.Dalam metode ini tidak tersedia pelatih secara khusus. Peserta
pelatihan harus memperhatikan dan mencotoh pekerja lain yang sedang bekerja
untuk kemudian melakukan pekerjaan tersebut sendiri.
2) Formal
on the job.Peserta mempunyai pembimbing khusus. Pembimbing tersebut sambil
melaksanakan tugasnya, diberi tugas tambahan untuk membimbing peserta pelatihan
yang bekerja di tempat kerjanya.
Berikut beberapa manfaat on the job :
a) Karyawan
melakukan pekerjaan yang sesungguhnya, bukan tugas yang disimulasikan.
b) Karyawan mendapat instruksi dari karyawan
senior berpengalaman yang telah melaksanakan tugas dengan baik.
c) Pelatihan dilaksanakan di dalam lingkungan
kerja yang sesungguhnya, dalam kondisi normal tanpa membutuhkan fasilitas
pelatihan khusus.
d) Bersifat
informal, tidak mahal, dan mudah dijadwalkan.
e) Dapat
menciptakan hubungan kerja sama langsung antara karyawan dan pelatih.
f) Pelatihan
sangat relevan dengan pekerjaan dan membantu memotivasi kinerja tinggi.
Adapun kelemahan on the job adalah :
a) Motivasi
pelatih kurang untuk melatih, sehingga pelatihan jadi kurang serius.
b) Pelatih dapat melaksanakan tugasnya dengan
baik, namun kurang memiliki kemampuan melatih orang lain agar dapat
melaksanakan pekerjaan dengan baik.
c) Pelatih
kurang / tidak memiliki waktu untuk melatih dan kemudian menghapus elemen
penting dalam proses pelatihan.
d) Karyawan
yang tidak terlatih mungkin memiliki dampak negatif pada pekerjaan dan
organisasional.
e) Efektif
biaya.
Kemudian macam dari on the job adalah
sebagai berikut:
1) Rotation
of assignment / job rotation / planned progression / rotasi kerja.Tujuan rotasi
kerja adalah memperluas latar belakang peserta dalam bisnis. Karyawan berpindah
dalam periode tertentu.
Keuntungan menggunakan metode ini antara
lain :
a. Memberi
latar belakang umum tentang organisasi, dan memberi sudut pandang bersifat
organisasional.
b. Mendorong
kerja sama antar departemen.
c. Memperkenalkan
sudut pandang yang segar secara periodik kepada berbagai unit.
d. Mendorong
keluwesan organisasi melalui penciptaan sumber daya manusia yang fleksibel.
e. Mampu
melaksanakan penilaian presentasi secara komparatif dengan lebih obyektif.
f.
Memperoleh keunggulan dalam setiap
situasi.
2) Coaching
and counseling / bimbingan dan penyuluhan
Dilaksanakan dengan cara peserta harus
mengerjakan tugas dengan dibimbing oleh pejabat senior atau ahli. Penyuluhan
efektif bila latihannya diindividualisasikan dan peserta belajar melakukan
pekerjaan langsung.
3) Apparenticeship
/ understudy / magang
Magang dilakukan dengan cara peserta
mengikuti kegiatan/pekerjaan yang dilakukan oleh pemangku jabatan tertentu,
untuk mempelajari bagaimana cara melakukan sesuatu kegiatan.
4) Demonstration
and example / demonstrasi dan pemberian contoh
Pelatih harus memberi contoh/memperagakan
cara melakukan pekerjaan/cara bekerja suatu alat/mesin. Sangat efektif karena
peserta mendapat teori dan praktek secara langsung.
2. Off
The Job
Off the job method adalah pelatihan yang
dilaksanakan di tempat kerja terpisah/di luar tempat kerja dan di luar waktu
regular:
1.
Simulation (simulasi)
Dilakukan
dengan cara menggunakan alat/mesin dalam kondisi lingkungan yang dibuat sama
dengan sebenarnya. Simulasi mengacu pada materi yang berupaya menciptakan
lingkungan pengambilan keputusan yang realistik bagi pelatih. Adapun macam dari
metode simulasi adalah:
a.
case study (studi kasus/telaah kasus)
Penyajian
tertulis dan naratif serangkaian fakta dari permasalahan yang dinamis dan
dipecahkan oleh peserta pelatihan. Pelatih yang menggunakan metode ini
hendaknya tidak mendominasi diskusi, memberi kesempatan pada beberapa peserta
pelatihan untuk mendominasi diskusi dan mengarahkan diskusi ke arah solusi yang
disukainya.
Studi
kasus dilakukan dengan cara peserta diminta untuk membahas masalah/kasus
tertentu dalam organisasi. Pembahasan bisa tertulis ataupun lisan. Pembahasan
kasus biasanya diambil dari kasus nyata.
Sasaran
yang ingin dicapai ialah:
1)
menemukan masalah dari suatu kasus.
2)
memiliki kemampuan untuk memisahkan fakta yang penting dari yang tidak penting.
3)
menganalisis pokok masalah dan menggunakan logika untuk menjembatani
kesenjangan yang ada dalam fakta.
4)
Menemukan berbagai cara untuk memecahkan masalah.
b.
Role playing (bermain peran)
Tujuan
pokok bermain peran adalah menaganalisis masalah antar pribadi dan memupuk
keahlian hubungan manusia. Bermain peran lazim digunakan untuk mengasah
kecakapan wawancara, negosiasi, konseling, pekerjaan, pendisplinan, penilaian
kinerja, penjualan dan tugas pekerjaan lain yang melibatkan komunikasi antar
pribadi. Peserta diharapkan memiliki pemahaman pada situasi tertentu dan
kondisi tertentu pula, melalui pengalihan dan pengalaman.
Cara
menggali pengalaman/pengetahuan yang dapat dicapai dengan metode studi kasus,
yaitu :
a.
Menguasai pengalaman/pengetahuan praktis.
b.
Menguasai pengalaman/pengetahuan dengan cara meniru perilaku yang dikehendaki.
c.
Menguasai pengalaman/pengetahuan dengan observasi dan umpan balik.
d.
Menguasai pengalaman/pengetahuan melalui analisis dan konseptual.
c.
Business game (permainan peran dalam bisnis)
Permainan
dalam bisnis adalah bentuk latihan simulasi yang dilakukan dalam kelas.
Pengorganisasian para pesertanya dilakukan dengan membagi peserta dalam tim
yang bertugas secara kompetitif memecahkan masalah tertentu dari suatu
organisasi tiruan. Dengan membandingkan kualitas keputusan pemecahan masalah
dan kualitas diskusi yang berlangsung. Sasaran yang ingin dicapai dari metode
ini adalah kemampuan untuk mengambil keputusan bersama atau keputusan yang
integral.
d.
Vestibule Training (pelatihan beranda)
Pelatihan
beranda adalah metode pelatihan yang digunakan untuk menggambarkan pelatihan
dalam sebuah ruang kelas bagi pekerjaan klerikal atau semi ahli. Metode ini
tepat untuk keadaan dimana karyawan yang dilatih banyak (untuk jenis pekerjaan
yang sama). Penekanan metode ini cenderung pada belajar dibandingkan dengan
produksi. Pelatihan ini biasanya dipakai untuk melatih klerk, teller bank,
operator mesin, juru ketik dan pekerja sejenis. Peserta bisa menggunakan
alat/mesin yang digunakan di tempat kerjanya nanti dengan dibimbing oleh
pelatih khusus.
Dengan
metode ini, organisasi bisa menghindar dari kerugian karena terjadinya
kesalahan yang dilakukan oleh peserta. Peserta juga terhindar dari tekanan dan
kebingungan dealam bekerja sehingga berkosentrasi pada materi, sehingga
diharapkan organisasi dapat memperoleh tingkat kemahiran tertentu dengan lebih
cepat.
e.
Laboratory training (pelatihan dengan peralatan laboratorium)
Metode
pelatihan dengan peralatan laboratorium dilaksanakan dengan cara peserta dibawa
ke dalam situasi yang dapat menyaksikan, mearasakan dan mencoba sendiri tentang
suatu keadaan/peran sehingga pelatihan dapat lebih mantap dan lebih berkesan.
2.
Sensitivity Training (pelatihan sensitivitas)
Metode
pelatihan sensitivitas adalah metode pelatihan untuk meningkatkan sensitivitas
antar pribadi dengan menuntut diskusi yang terbuka dan jujur tentang perasaan,
sikap dan perilaku peserta pelatihan. Pastisipasi dalam pelatihan ini didorong
agar memberitahukan kepada peserta lainnya secara jujur bagaimana perilakunya
di mata orang lain dan pearasaan orang lain terhadap perilakunya.
Tujuan
pelatihan sensitivitas ialah :
a.
Menjadi kompeten dalam hubungan pribadi seseorang.
b.
Mempelajari lebih banyak tentang dirinya sebagai pribadi.
c.
Mempelajari bagaimana orang lain bereaksi terhadap perilaku seseorang.
d.
Mempelajari tentang dinamika formasi kelompok.
Sasaran
pokok pelatihan dan pengembangan yang dilakukan adalah mengembangkan kesadaran
dan kepekaan peserta terhadap pola tingkah laku pribadinya dan orang lain.
Sasaran tersebut dapat dicapai melalui beberapa sasaran antara lain :
1)
Peningkatan keterbukaan terhadap orang lain.
2)
Perhatian yang lebih besar kepada orang lain.
3)
Peningkatan toleransi atas perbedaan individual.
4)
Pengurangan sikap prasangka yang bersifat etnik.
5)
Pemahaman atas proses kelompok.
6)
Peningkatan kemampuan mendengarkan pendapat orang lain.
7)
Peningkatan kepercayaan dan pemberian dukungan kepada orang lain.
Dalam
pelaksanaanya, metode ini terdiri dari tiga tahap, yaitu:
a)
T-grouping
Berisi
tatacara pengorganisasian peserta pelatihan. Para peserta dibagi ke dalam
kelompok kecil 8-12 orang untuk melakukan pertemuan terus-menerus secara tatap
muka selama kurang lebih 2 minggu.
b)
Exercises
Berisi
teknik yang biasa digunakan dalam diskusi pada pertemuan yang dilakukan dalam
T-group. Teknik tersebut antara lain :
1.
In basket.
2.
Panel discussion.
3.
Business game.
4.
Leaderless group.
5.
Intergroup competitive exercises
6.
Role playing.
7.
Case study.
c)
Theory session
Digunakan
untuk menjelaskan secara teoritis dan konseptual apa yang terjadi selama
kegiatan T-grouping dan exercise. Selama theory session kepada peserta
dijelaskan konsep, prinsip dan teori perilaku manusia serta perilaku
organisasi.
3.
Outbond / widerness (pelatihan alam terbuka)
Metode
pelatihan alam terbuka adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan program
pengembangan manajemen dan eksekutif yang berlangsung di alam terbuka yang
meliputi pendakian gunung, pelayaran, berkano, arung jeram, sepeda gunung, dan
lain-lain. Tujuan pelatihan alam terbuka bukanlah pengembangan keahlian teknis
namun lebih pada pengembangan dan pengasahan keahlian antar pribadi seperti :
keyakinan diri, penghargaan diri, kerja tim, penetapan tujuan dan kepercayaan.
4.
Presentation information (presentasi informasi)
Merupakan
metode pengembangan yang berupa penyampaian informasi terkait hal-hal yang akan
dikembangkan, adapun macam penyampaian yang digunakan dalah sebagai berikut:
a.
Lecture (kuliah)
Kuliah
adalah penyajian informasi secara lisan. Kuliah yaitu ceramah/pidato dari
pelatih yang diucapkan secara ilmiah untuk tujuan pengajaran dan kuliah
merupakan pelatihan yang paling umum. Bersifat teori dan dapat menampung
peserta dalam jumlah yang besar.
b.
Conference (konferensi/seminar)
Konferensi
dilakukan secara kelompok, berisi diskusi yang diawasi oleh evaluator. Setelah
diskusi selesai, evaluator menilai dan mengukur keseluruhan diskusi yang telah
dilakukan perserta.
c.
Transactional analysis (analisis transaksi)
Peserta
dibimbing untuk menganalisis hubungan antar pribadi dan memahami tiga keadaan
ego manusia, yaitu :
1)
Ego orang tua
2)
Ego anak
3)
Ego orang dewasa
Keadaan
ego orang tua cenderung mempertimbangkan, merendahkan dan menghukum, keadaan
ego anak, ada yang berjiwa bebas, kreatif, dan spontan, sangat
pemberontak/sangat penurut. Ego orang dewasa berkaitan dengan kenyataan yang
sedang dihadapi, mendengar pikiran terbuka dan menyatakan opini secara singkat,
aktif terlibat memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi, serta pengambilan
keputusan rasional.
d.
Video presentation (presentasi video)
Penyampaian
informasi melalui video interaktif dengan tujuan agar yang bersangkutan dapat
melihat kembali apa yang telah dilakukannya, untuk dijadikan bahan
pelajaran/penyempurnaan.
e.
Programmed instruction (instruksi terprogram)
Adalah
presentasi informasi yang sudah menggunakan pola terprogram.
5.
Kursus Formal
Metode
off the job dengan cara karyawan mengikuti kursus di luar agar mampu menambah
keahliannya. Metode ini tidak selalu berhasil karena tergantung dari karyawan
itu sendiri.
Kelebihan
dan Kekurangan Metode Peatihan dan Pengembangan
Setiap
metode mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, berikut tabel yang
menjelaskan kelebihan dan kekurangan setiap metode pelatihan dan pengembangan.
Evaluasi
Pelatihan dan Pengembangan
Evaluasi
pelatihan dan pengembangan secara khusus mencermati masalah yang terkait dengan
aplikasi pembelajaran di tempat kerja, implementasi jangka panjang, biaya dan
efektifitas pelatihan serta pengembangan yang diberikan (Rae, 2005). Oleh
karena itu untuk pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia sendiri ada
metode tertentu dalam mengevaluasi proses pelatihan dan pengembangan.
Metode
Evaluasi Pelatihan dan Pengembangan
Ada
banyak metode evaluasi pelatihan dan pengembangan yang dikemukakan oleh para
ahli, menurut Kirkpatrick (1994), mengemukakan beberapa alasan perlunya
diadakan suatu evaluasi terhadap pelatihan, diantaranya adalah :
1.
Mempertanggungjawabkan keberadaan bagian diklat dengan menunjukkan bagaimana
bagian ini berkontribusi terhadap tujuan dan cita-cita organisasi.
2.
Membuat keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan program pelatihan.
3.
Mendapatkan informasi bagaimana mengembangkan program pelatihan selanjutnya.
Kirkpatrick
juga mengatakan bahwa untuk melakukan evaluasi pelatihan teradapat empat tahap
proses yang dikenal dengan The four level evaluation.
Tahapan
itu merupakan serangkaian proses yang dinamis. Meskipun evaluasi pada tahap
yang lebih tinggi akan memakan waktu yang lebih lama dan sulit, namun dapat
memberikan informasi yang lebih lengkap tentang program pelatihan yang
dievaluasi.
Empat
tahap evaluasi pelatihan dan pengembangan itu adalah :
1.
Reaction
Evaluasi
ini dilakukan pada saat dan setelah menerima materi pelatihan, yakni evaluasi
untuk mengukur minat dan reaksi peserta atas pelatihan.
2.
Learning
Disebut
juga evaluasi hasil belajar. Evaluasi ini dilakukan untuk mengukur tingkat
pemahaman peserta setelah menerima pembahasan dari para pelatih setiap sesi
pelatihan. Penilaian terhadap tingkat pemahaman ini sangat penting untuk
mengetahui apakah peserta materi yang diberikan dalam pelatihan.
3.
Behavior
Evaluasi
ini dilakukan setelah pelatihan. Tujuannya untuk melihat bagaimana perilaku
peserta setelah mengikuti pelatihan, langkah apa yang sudah dilakukan serta
bagaimana sikap stakeholder terhadap hasil pelatihan.
4.
Result
Merupakan
evaluasi jangka panjang, yakni evaluasi mengenai kinerja lembaga yang terjadi
akibat kinerja anggota organisasi yang mengikuti pelatihan. Evaluasi ini dapat
dilakukan tiga sampai empat tahun setelah pelatihan.
Sumber: //soddis.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar